Jumat, 07 Januari 2011

jenis makna dalam bahasa indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Bahasa Indonesia semakin berkambang seiring dengan berkembangnya zaman. Sekarang dalam mempelajarinya, anak SD pun sudah diberi materi yang sebenarnya, dulu diberikan kepada anak SMP. Meskipun demikian, tetapi yang diberikan ketika SD itu adalah hanya materi dasar-dasarnya saja dan belum terlalu mendalam. Sebenarnya, materinya itu adalah sama saja mulai dari SD diulang lagi di SMP, diulang lagi di SMA, dan diulang lagi sampai ke Perguruan Tinggi. Tetapi, tingkat kesulitan atau tingkat pendalaman materinya berbeda.
Sekarang kita belajar Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Mengenai tentang jenis-jenis makna dalam Bahasa Indonesia, yang pasti pembahasan materinya akan lebih rinci dan lebih mendalam. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan disebutkan jenis-jenis makna dalam Bahasa Indonesia.
2. Rumusan masalah.
• Apa perbedaan antara masing-masing jenis makan tersebut?
• Bagaimana contoh-contoh dari masing-masing jenis makna tersebut?
3. Tujuan penulisan.
Menambah dan memperdalam pengetahuan kita tentang jenis-jenis makna dalam Bahasa Indonesia yang semula kita hanya mengetahui secara mendasar saja.

4. Manfaat penulisan
- Agar kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan makna leksikal, gramatikal, denotasi, konotasi dan sebagainya.
- Agar kita dapat mengetahui perbedaan-perbedaannya.
- Agar kita dapat mengetahui contoh-contohnya dan bisa mengidentifikasi apabila kita menemukan suatu kalimat dalam suatu bacaan.










BAB II
PEMBAHASAN
JENIS MAKNA

Karena bahasa itu digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat, maka makna bahasa itu pun menjadi bermacam-macam dilihat dari sudut pandang berbeda.
Berbagai nama jenis makna telah dikemukakan oleh orang dalam berbagai buku linguistik maupun semantik

1. Makna Leksikal

Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan observasi indera kita, makna apa adanya, atau makna yang ada dalam kamus.
Contoh : leksem “kuda” memiliki makna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, “pensil” bermakna leksikal sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang.

2. Makna Gramatikal

Makna gramatikal ada jika terjadi proses gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Makna gramatikal ini sering disebut juga makna kontekstual atau makna situasional. Selain itu juga disebut makna struktural karena proses dan satuan-satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan strktur ketatabahasaan. Umpamanya, dalam proses aplikasi prefiks ber- dengan baju melahirkan makna gramatikal “ memakai baju”, dengan dasar kuda melahirkan arti “mengendarai kuda”. Untuk menyatakan makna “jamak” bahasa Indonesia menggunakan proses reduplikasi seperti kata buku yang bermakna “sebuah buku” menjadi buku-buku yang bermakna “banyak buku”. Contoh proses komposisi adalah komposisi sate ayam tidak sama dengan komposisi sate Madura. Yang pertama menyatakan “asal bahan” dan yang kedua menyatakan “asal tempat”.


3. Makna Referensial dan Makna Nonreferensial

Kata bermakna referensial adalah kata yang mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata “meja” dan “kursi” termasuk makna referensial karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga. Sebaliknya, kata karena dan tetapi tidak mempunyai referen. Jadi, kata karena dan tetapi termasuk makna non referensial.
Dapat disimak bahwa kata-kata yang termasuk kategori kata penuh, seperti yang disebut di atas termasuk kata bermakna referensial. Dan yang termasuk kelas kata tugas seperti preposisi dan konjungsi adalah kata-kata yang termasuk kata bermakna nonreferensial.
Contoh :

(a) Tadi dia duduk di sini
(b) “ Hujan terjadi hamper setiap hari di sini”, kata walikota Bogor.
(c) Di sini, di Indonesia, hal seperti itu sering terjadi.
Pada kalimat (a) kata di sini menunjukkan tempat tertentu yang sempit sekali. Mungkin sebuah bangku atau hanya pada sepotong tempat dari sebuah bangku. Pada kalimat (b) di sini merujuk pada sebuah tempat yang lebih luas yaitu Bogor. Sedangkan pada kalimat (c) di sini merujuk pada daerah yang meliputi seluruh wilayah Indonesia.

4. Makna Denotatif
Makna denotatif sering disebut juga dengan makna denotasional, makna konseptual, makna kognitif, atau makna proporsional. Pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotasi ini lazim di beri penjelasan sebagai maknayang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Jadi makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi factual obyektif. Persoalan kita sekarang adalah, mengapa dapat terjadi hal yang demikian? Dua buah kata yang makna denotasinya sama dapat menjadi berbeda “makna keseluruhannya” akibat pandangan masyarakat berdasarkan nilai-nilai atau norma budaya yang berlaku dalam masyarakat itu. Berikut ini beberapa contoh kata yang mengandung makna denotatif:
(a) Dia adalah wanita cantik
Kata cantik ini diucapkan oleh seorang pria terhadap wanita yang berkulit putih, berhidung mancung, mempunyai mata yang indah dan berambut hitam legam.
(b) Tami sedang tidur di dalam kamarnya.
Kata tidur ini mengandung makna denotatif bahwa Tami sedang beristirahat dengan memejamkan matanya (tidur).
5. Makna Konotasi
Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi, tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Positif dan negatifnya nilai rasa sebuah kata seringkali juga terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambang. Jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif maka akan bernilai rasa yang positif; dan jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang negatif maka akan bernilai rasa negatif. Misalnya, burung garuda karena dijadikan lambang negara republik Indonesia maka menjadi bernilai rasa positif sedangkan makna konotasi yang bernilai rasa negatif seperti buaya yang dijadikan lambang kejahatan. Padahal binatang buaya itu sendiri tidak tahu menahu kalau dunia manusia Indonesia menjadikan mereka lambang yang tidak baik.
6. Makna konotasi
Sebuah kata dapat berbeda dari satu kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma-norma penilaian kelompok masyarakat tersebut. Misalnya kata babi, di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas beragama islam, memiliki konotasi negatif karena binatang tersebut menurut hukum islam adalah haram dan najis. Sedangkan di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas bukan islam seperti di pulau Bali atau pedalama Irian Jaya, kata babi tidak berkonotasi negatif.
Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti “cerewet” tetapi sekarang konotasinya positif. Sebaliknya kata perempuan dulu sebelum zaman Jepang berkonotasi netral, tetapi kini berkonotasi negatif.
7. Makna Kata
Setiap kata atau leksem mempunyai makna. Pada awalnya makna yang dimiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna denotative atau makna konseptual. Namun dalam penggunaan makna kata terlihat jelas jika kata itu sudah ada dalam konteks kalimatnya atau situasinya. Contoh :
(a) Tangannya luka kena pecahan kaca.
(b) Lengannya luka kena pecahan kaca.
Kata tangan dan lengan sebagai kata, maknanya lazim di anggap sama atau bersinonim.
8. Makna Istilah
Yang disebut istilah adalah yang mempunyai makna yang jelas, pasti, dan tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Yang perlu diingat bahwa istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Contohnya, kata tangan dan kata lengan yang menjadi contoh di atas. Kedua kata itu dalam ilmu kedokteran memiliki makna yang berbeda. Tangan bermakna “bagian dari bagian pergelangan sampai ke jari tanagn”, sedangkan lengan bermakna “bagian pergelangan sampai ke bahu”. Jadi, kata tangan dan lengan sebagai istilah dalam ilmu kedokteran tidak sama.
Dalam perkembangan bahasa memang ada sejumlah istilah, yang karena sering digunakan, maka menjadi kosakata umum. Artinya, istilah tersebut tidak hanya digunakan dalam bidangnya, tetapi juga tyelah digunakan secara umum, di luar bidangnya. Misalnya istilah spiral, akomodsi, virus dan lain-lain. Tetapi istilah alomorf, alofon, morfem masih tetap sebagai istilah di bidangnya.

9. Makna Konseptual

Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas dari asosiasi atau hubuingan apa pun. Jadi, sebenarnya makna konseptual ini sama dengan makna referensial, makna denotatif, dan makna leksikal. Contohnya, kata “kuda” mempunyai makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”.

10. Makna Asosiatif

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan denganadanya hubungan kata itu dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya kata melati berasosiasi dengan makna “suci”, atau “kesucian”. Kata merah berasosiasi dengan makna “berani”,atau jugha “dengan golongan komunis”. Makna asosiasi ini sama dengan perlambang-perlambang yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain. Makna ini juga berurusan dengan nilai rasa bahasa, maka ke dalam makna asosiasi ini termasuk juga makna lain seperti makna konotatif, makna stilistika, makna afektif, dan makna kolokatif.
Makna stiliostika berkenaan dengan gaya pemilihan kata sehubungan dengan adanya perbedaan social dan bidang kegiatan di dalam masyarakat. Karena itulah dibedakan makna kata guru, dosen, pengajar, dan instruktur.
Makna afektif berkenaan dengan perasan pembicara pemakai bahasa secara pribadi. Jika seseorang menghardik kita meskipun dengan kata-kata biasa kita tentu merasakan sesuatu yang agak lain kalau kata-kata itu di ucapkan dengan nada pelan. Contoh:

(a) Duduk! (dengan nada keras)
(b) Duduk! (dengan nada pelan)

Makna kolokatif berkenaan dengan cirri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya. Misalnya kata tampan sesungguhnya bersinonim dengan kata cantik, indah, hanya cocok atu berkoloksi dengan kata yang memiliki ciri pria. Maka kita dapat mengatakan “pemuda tampan” bukan “gadis tampan”. Jadi, tampan tidak berkolokasi dengan gadis.

11. Makna Idiom

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat di ramalkan dari makna leksikal unsure-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Misalnya, menurut kaidah gramatikal pada frase “rumah kayu” bermakna “rumah terbuat dari kayu”, tetapi frase “rumah batu” selain bermakna “rumah terbuat dari batu”, juga mempunyai makna “pegadaian”. Jadi, makna seperti yang dimiliki “rumah batu” yang bermakna “pegadaian” itulah yang disebut makna idiomatikal. Contoh lain dari idiom adalah membanting tulang dengan makna”bekerja keras”, rumah hijau dengan makna “pengadilan”.

12. Makna Peribahasa

Berbeda dengan makna idiom yang maknanya tidak dapat diramalkan secara leksikal maupun gramatikal, maka yang disebut peribahasa mempunyai makna yang msih dapat ditelusuri dari makna unsurnya. Karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Misalnya peribahasa seperti anjing dengan kucing yang bermakna “ihwal dua orang yang tidak pernah akur”. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang anjing dan kucing jika bersuara memang selalu berkelahi, tidak pernah damai. Contoh lain, peribahasa tong kosong nyaring bunyinyayang bermakna orang yang banyak cakapnya biasanya tidak berilmu. Makna ini dapat ditarik dari asosiasi tong yang berisi bila dipukul tidak mengeluarkan bunyi, tetapi tong yang tidak berisi bila dipukul akan mengeluarkan bunyi nyaring.















BAB III
KESIMPULAN
Jenis atau tipe makna dapat dibedakan :
• Berdasarkan jenis semantiknya, dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal.
• Berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata, dapat dibedakan antara makna referensial dan makna nonreferensial.
• Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata, dapat dibedakan antara makna denotatif dan makna konotatif.
• Berdasarkan ketepatan maknanya, dikenal adanya makna kata dan makna istilah atau makna khusus dan makna umum.








DAFTAR PUSTAKA

Chaer, A. 2002. Pengantar Semantik Bahas Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
http: // bahasa kebanggaan. blogspot.com/2003/01/makna-leksikal-dan-makna-gramatikal. html
http: //makalah dan skripsi. blogspot. com/2009/06 makna-denotatif-makna-konotatif-dan. html
Keraf, G. 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

your comment..