BAB II
PEMBAHASAN
HAKIKAT PEMBINAAN AKHLAQ TASAWUF
TAZKIYAH NAFSI
A. Pengertian tazkiyah nafsi
Pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran penyakit hati seperti sifat hasud, ujub, riya’ dan sifat tercela lainnya. Berkaitan dengan ini, ada empat istilah yang terkait erat dengan istilah Nafs, yakni al-qolb,ar-ruh, an-nafs, dan al-aql. Tazkiyah nafs ini, termasuk misi para rasul, sasaran orang yang bertaqwa, dan menentukan keselamatan atau kecelakaan disisi Allah.
Tazkiyah hati dan jiwa hanya bisa dicapai melalui berbagai ibadah dan amal perbuatan tertentu, apabila dilaksanakan secara sempurna dan memadai seperti sholat, puasa, dzikir,dan sebagainya. maka pada saat itulah terealisir dalam hati sejumlah makna dan pengaruhnya akan tampak pada perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan Allah yang berupa pelaksnaan ibadah kepada-Nya sedangkan kepada manusia sesuai dengan ajaran, tuntutan yang dibenarkan. Dampak lain yang dapat dirasakan adalah terealisirnya tauhid, ikhlas, sabar, syukur, harap, santun, jujur dan cinta kepada Allah serta terhindar dari akhlaq yang jelek.
B. Sarana tazkiyah nafs.
Yang dimaksud sarana tazkiyah adalah berbagai amal perbuatan yang mempengaruhi jiwa secara langsung dengan menyembuhkannya dari penyakit, membebaskannya dari ‘tawanan’ atau merealisasikan akhlaq padanya.
Ada beberapa sarana tazkiyah nafs :
Sholat.
Sholat adalah suatu sarana tazkiyah nafs dan merupakan wujud tertinggi dari ubudiyah dan rasa syukur.
Penuaian sholat, misalnya dapat membebaskan manusia dari sikap sombong kepada Allah Tuhan alam semesta, dan pada saat itu bisa menerangi hati lalu memantul pada jiwa dengan memberikan dorongan untuk mrninggalkan perbuatan keji dan mungkar.
Zakat dan infaq.
Zakat dan infaq bisa membersihkan jiwa dari bakhil dan kikir, dan menyadarkan manusia bahwa pemilik harta yang sebenarnya adalah Allah. “yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah ) untuk membersihkannya”. Ini juga akan membuat kita bersyukur kepada Allah, karena kita telah dikarunai nikmat yang segini besarnya sedangkan masih banyak diluar, orang-orang yang kurang mampu sehingga kita dengan ikhlas akan gemar bershadaqoh dengan hati yang ikhlas. Dan dengan hal inilah harta kita akan bersih dari hak-hak orang yang mempunyai hak.
Puasa.
Tujuan dari puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar dari mulai terbit fajar hingga matahari tenggelam, namun juga melatih kesabaran dan mengekang hawa nafsu dari keinginan-keinginan hawa nafsu duniawi, serta menghentikan atau menahan perbuatan-perbuatan jelek yang timbul dari anggota tubuh kita, seperti ghibah, namimah, mendengarkan yang jelek-jelek dan lain sebagainya. Sehingga dengan berpuasa setiap hamba dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan khusu’ tanpa terbebani keinginan-keinginan dunuawi.
Dzkir dan pikir.
Berbagai dzikir yang bisa memperdalam iman dan tauhid didalam hati, “ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”. Dengan demikian jiwa bisa mencapai derajat tazkiyah yang tinggi. Seperti membaca Al-quran yang dapat mengingatkan jiwa kepada berbagai kesempurnaan.
Dzikir dan pikir adalah dua sejoli yang dapat membukakan hati manusia untuk menerima ayat-ayat Allah, oleh karena itu tafakkur termasuk sarana tazkiyah.
Misalnya saat duduk termenung,kita berfikir tentang alam yang diciptakan oleh Allah hanya untuk manusia, tetapi manusia justru merusaknya tidak menjaga dan melestarikannya. Fikiran yang sadar akan berdzikir dan meminta ampun kepada Allah, “astaghfirullohal ‘adzim”.
Munculnya nilai-nilai dalam hati tak lain adalah melalui perpaduan antara pikir dan dzikir keduanya adalah saling berkaitan.
Mengingat kematian.
Kadang jiwa manusia yang lagi bersifat sombong, sewenang-wenang atau lalai, maka mengingat kematian akan dapat mengembalikannya lagi kepada ubudiyah-Nya dan menyadarkan bahwa ia tidak memiliki daya sama sekali, yang kekal hanyalah Allah Maha pencipta kita.
Amar ma’ruf nahi munkar
Tak ada hal yang sedemikian efektif untuk menanamkan kebaikan kedalam jiwa sebagaimana perintah untuk melakukan kebaikan, dan tiada hal yang sedemikian efektif untuk menjauhkan jiwa dari keburukan. Bahkan orang yang tidak memerintahkan yang ma;ruf dan tidak mencegah kemungkaran berhak mendapat laknat.
C. Landasan Tazkiyah nafs.
Muatan-muatan peraturan hidup yang terdapat dalam Al-quran merupakan format untuk menciptakan kesalehan hidup. Adapun kesalehan hidup merupakan manifestasi dari dalam diri manusia, yang pada hakikatnya berasal dan bergantung pada jiwanya. Dalam konteks ini kita bisa memahami bahwa seruan penyalehan hidup yang terdapat dalam Al-quran pada dasarnya adalah seruan intuk menyucikan jiwa. Seperti contoh dalam surat Asy-syams ayat 7-10, yang artinya adalah “dan demi jiwa serta penyempurnaanya (ciptaanya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya”.
Seruan untuk menyucikan jiwa tersebut dengan jelas dapat kita pahami dari ayat; “sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu”.
D. Tujuan Tazkiyah nafs.
Tujuan tazkiyah nafs pada hakikatnya adalah memperoleh kesucian dan kesempurnaan jiwa agar manusia dapat berhubungan secara harmonis dengan Allah, sesama manusia, dan sesama makhluk lain.
Adapun unsur-unsur yang harus ada untuk mencapai tazkiyah nafs adalah;
Unsur aqidah.
Al Ghazali menjelaskan bahwa kesucian jiwa akan diperoleh apabila manusia betul-betul mempunyai landasan aqidah dan keimanan yang jelas.
Unsur ibadah.
Al Ghazali mengonsepsikan tazkiyah nafs sebagai upaya seseorang untuk senantiasa melakukan ibadah yang sesuai tuntunan syariat yang diturunkan Allah. Hal ini karena dalam ibadah terkandung tujuan untuk meraih kesucian jiwa dihadapan Allah.
Unsur adat.
Al ghazali menjelaskan cara menyucikan diri dalam pergaulan hidup sebagai makhluk pribadi dan makhluk social. Tazkiyah nafs sebagai upaya membersihkan jiwa dalam realitas pergaulan sosial sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Unsur akhlaq.
Al ghozali juga mengonsepsikan tazkiyah nafs sebagai sebagai unsur penyucian jiwa dari sifat tercela, dan mengisinya dengan sifat terpuji.
Setelah semua unsur tazkiyah nafs sudah ada, tujuan dari upaya pembersihan diri ini akan terlaksana apabila telah melapaui beberapa tahap. Tahapan-tahapan tersebut adalah:
Tathahhur. (upaya mensucikan diri).
Upaya ini diawali dengan taubat dan berjanji tidak tidak akan mengulangi lagi segala perbuatan yang bisa mengotori jiwa atau hati . harus bisa mengikis habis segala yabg bisa menggoda hatinya untuk kembali melakukan perbuatan-perbuatan kotor. Dengan cara ini, jiwanya akan terasa kosong dari penyakit-penyakit , sehingga dapat dikatakan jiwanya bersih.
Takhallaq. (upaya menghiasi diri dengan akhlaqul karimah)
Setelah seorang berusaha mensucikan diri dari perbuatan-perbuatan kotor pada jiwanya, maka ia harus berupaya mengisinya dengan perbuatan-perbuatan mulia. Dengan cara ini, jiwa seseorang akan terhiasi dengan perilaku-perilaku baik yang pada akhirnya perlu perwujudan dalam perilaku.
Tahaqquq (upaya merealisasikan kedudukan-kedudukan mulia atau biasa disebut dengan maqomatul qulub )
Upaya ini merupakan puncak dari proses tazkiyah nafs, karena takholluq merupakan cara dan jalan bagaimana seorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan Allah sehingga ia akan memperoleh kedudukan yang mulia disisiNya.
E. Buah tazkiyah nafs.
Aktifitas-aktifitas tazkiyah ini dapat menghasilkan buah antara lain adalah:
Dhabtul lisan (lisan yang terkontrol)
Apabila pewrintah rasulullah ini dilaksanakan, maka akan dapat memetik buah dari tazkiyah, yaitu seorang muslim dapat mengontrol lisannya sehingga ia akan senantiasa terjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik.
‘ keimanan seorang hamba tidak akan lurus sebelum lurus hatinya, dan hatinya tidak akan lurus sebelum lurus lisannya ‘.
Iltizam bi adabil ‘ilaqqat (komotmen dengan adab-adab pergaulan)
Hasil lain dari tazkiyah yang dapat dipetik adalah berkomitmen dengan adab-adab pergaulan . ada 4 macam klasifikasi manusia dalam pergaulan. Yaitu:
1) Segolongan orang yang bergaul dengan mereka ibarat mengkonsumsi makanan yang bergizi. Ia dibutuhkan siang dan malam. Jika seorang telah menyelesaikan keperluannya ia ditinggal, dan jika diperlukan lagi ia datangi. Mereka adalah para ulama. Bergaul dengan mereka adalah keberuntungan yang nyata.
2) Segolongan orang yang bergaul dengan mereka ibarat mengkonsumsi obat. Ia dibutuhkan dikala sakit, selama sehat tidak perlu pergaulan dengan mereka. Mereka adalah para professional dalam urusan muamalat, bisnis dan yang semisalnya. Bergaul dengan orang seperti ini dapat membawa urusan ma’siyah menjadi lancar.
3) Segolongan orang yang bergaul dengan mereka ibarat mengonsumsi penyakit. Orang semacam ini tidak membawa keuntungan dunia m,aupun akhirat.
4) Segolongan orang yang bergaul dengan mereka adalah kebinasaan total. Mereka ibarat racun. Jika jika seseorang tidak sengaja memakannya itupun sudah suatu kerugian. Mereka adalah para ahli bid’ah dan kesesatan, penghalang sunnah rasul, penyeru kepada perselisihan. Bergaul dengan mereka juga kerugian dunia akhirat.
F. Contoh dari para ulama dan sahabat nabi yang tergolong sufi dan telah melalui pembinaan tazkiyah nafs serta pembinaan lainnya adalah :
- Abu Bakar Ashsiddiq - Hasan bashri
- Umar bin khattab - Rabi’ah al adawiyah
- Usman bin affan - Sufyan bin sais ats tsauri
- Ali bin Ani thalib - Daud Ath-Thay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
your comment..